Saturday, September 6, 2008

all this insanity


jam 09.53 AM.

jiwa saya baru ngumpul.
duh.

kebokebokebokebo.

Gara-gara semalam ngobrol dengan (mantan) dosen pembimbing saya tercinta dan istrinya..Pak Yandi dan Mbak Mita sampe jam 12 malem..saya jadi telat pulang dan akhirnya nyaris telat sahur karena baru bangun jam 4. Lampu di rumah mati..*grubak-grubuk mencari lilin*..akhirnya bisa sahur juga dengan telor ceplok dan sayur sop kemaren.
Alhamdulillah.
Ohya, ngomong-ngomong saya baru baca buku diatas...Cashflow Quadrant by Robert Kiyosaki...
Buku ini bener-bener menarik dan bisa memutar balik seluruh pemikiran yang mungkin kita punya selama ini.

Selama ini saya sering mikir apa iya standar kesuksesan kita selalu dikategorikan pada gaji tinggi, rumah besar, punya mobil banyak?

baju Chanel, sepatu Manolo, dan tas Louis Vuitton?

sebagai orang yang berkecimpung di arsitektur, susah banget pasti meraih semua itu. Kecuali kalo kerja di luar negeri atau berkecimpungnya di wilayah interior. Arsitek di Indonesia masih ngga terlalu diapresiasi (sayangnya). Sampai bisa terbit sebuah buku di Gramedia yang judulnya (kalau tidak salah) "membangun rumah tanpa ARSITEK". (huu..curhat...)

Situasi kayak gini yang mungkin membuat banyak orang memilih kerja di luar negeri. Ketika saya sempat magang di Singapura, orang asing terbanyak di kantor saya adalah orang Indonesia. Mengalahkan orang Cina, Filipina dan Malaysia. Karena secara finansial memang menggiurkan.

Tapi balik lagi ke bukunya si Robert, apa sih yang sebenarnya mau kita cari?

Pas awal karirnya, si Robert dan istrinya adalah tunawisma.

Yap, anda nggak salah baca. Mereka ngga punya rumah pada awalnya, dan dalam beberapa tahun mereka udah meraih kebebasan finansial dan gak perlu kerja seumur hidup.

Menurut si Robert, yang namanya gaji tinggi itu menyesatkan. Dan tidak akan berlangsung selamanya.

Dan coba tebak, rumah besar, mobil banyak, dan baju mewah sebenarnya adalah "liabilitas" atau sesuatu yang hanya akan membuat anda terjerumus ke jeratan hutang. Dia tidak akan menghasilkan apa-apa untuk anda.

Menarik, terutama untuk orang Indonesia yang masih punya stigma berpikir bahwa orang baru sukses kalau memiliki hal-hal di atas.

Alih-alih, Robert memilih untuk mendapatkan kebebasan finansial. Dia memutuskan untuk menjadi businessman dan investor, bukan employee. Dia memilih untuk nggak bergantung ke orang lain dan mendapatkan kebebasan finansial seumur hidup. Bebas untuk memiliki apa yang dia mau.

Robert memilih untuk membangun aset, bukan liabilitas. Dia tidak percaya pada kesuksesan semu yang ditawarkan oleh rumah besar dan mobil banyak. Dia percaya, kelak itu semua akan dimilikinya dengan sendirinya apabila sudah memiliki aset yang menghasilkan.

Buku ini memberikan pola berpikir seorang businessman dan investor, langkah-langkah yang harus diambil agar anda dapat memperoleh kebebasan finansial, tidak terjerat hutang. Dan tidak perlu memiliki modal tinggi. Modal tertinggi anda hanyalah otak anda.

Gara-gara baca buku ini, saya jadi semangat ingin berwirausaha.

Tapi sekarang,

Mau bermimpi dulu deh.

ZZzzzzzZ....

1 comment:

geRrilyawan said...

yak betul kriesh...wirausaha. tapi wirausaha juga gak segitu mudahnya lho...buanyakkk bgt masalahnya...

oiya buku "membangun tanpa arsitek" itu yang bikin memang kurangajar banget...

follow me