Saturday, November 14, 2009

yellow jacket story

baru membaca kisah ini, yang membuat saya teringat kembali kepada si kuning yang kini teronggok di dalam lemari.

melihatnya kembali, membuat saya teringat pada kisah enam tahun yang lalu. sudah enam tahun, tapi masih terasa seperti kemarin.

saya inget perjuangan setengah mati sebelum mendapatkan jaket ini. saya ingat juga perjuangan setengah mati dalam ospek setelah mendapatkan jaket ini. dibentak-bentak oleh senior-senior yang sekarang sangat saya sayangi, dan ditimbun oleh ribuan tugas. saya ingat juga berfoto bersama rekan seangkatan saya ketika maba yang sekarang sudah seperti saudara, juga memakai jaket ini. jalan-jalan dan studi lapangan, ditemani pula oleh si jaket, yang membuat kehadiran saya diterima lebih baik dimana saja, karena semua orang mengenal arti si jaket. sampai ketika penghujung masa kemahasiswaan, ketika mengenakan kembali jaket ini untuk mengospek maba, masuk dan keluar hutan bersama si jaket yang sudah memiliki badge tanda 'senior'. tak lama setelah itu, jaket yang lengannya bernoda, kancingnya banyak yang tanggal dan warnanya sudah memudar ini pun usai karya baktinya dan berganti toga, yang dipenuhi euforia kegembiraan dan mampu mengikis kenangan si jaket untuk beberapa lama.

namun kini, semuanya berkelebatan kembali di ingatan.

cerita Alanda membuat saya merasa asing akan institusi yang lambangnya tertera di jaket ini. She says, "UI people won't know you. You are nothing but a number."

entah kenapa, dulu saya tidak merasa demikian. semua senior mengenal juniornya, antar jurusan cukup dekat, bisa saling kenal antar fakultas (berkat obm dan lain-lain itu), semua dosen mengenal muridnya, bahkan ada dosen yang masih mengingat semua muridnya dari tahun 1970 sampai sekarang. bahkan ketika saya pergi ke kampus kemarin dan beli air mineral di tukang minuman langganan saya, dia masih ingat nama saya padahal sudah bertahun tidak bertemu.

tapi mungkin juga ya, kalau rektor sih ga bakal kenal saya.

namun cerita alanda membuat saya berpikir, maybe it's different now in there.

dulu ketika jaman saya, belum diberlakukan yang namanya admission fee, alias uang pangkal. siswa tidak harus bayar 25 juta seperti sekarang. tuition fee alias bopnya sekitar 1.5 juta rupiah per semester, tidak seperti sekarang yang 7,5 juta rupiah (atau 9.5?saya lupa). tentu ini menjadi seleksi alami bagi yang mendaftar ke UI, bahwa masuk UI harus orang yang 'berada'.pun sistem belajarnya masih terpisah dan bisa bercampur dengan jurusan lain, bukan terintegrasi dan terpusat seperti sekarang yang menyebabkan sulitnya keterhubungan antar jurusan.

dulu yang namanya ospek masih diberlakukan, karena ospek dirancang dengan hati-hati serta penuh komitmen dan pada akhirnya berguna merekatkan para mahasiswa dan membuat senior dekat dengan juniornya. para dosen dan ketua jurusan tidak terlalu peduli dan merestui kegiatan itu, karena mereka tahu makna sebenarnya (sekadar pemberitahuan, untuk membentak pun ada aturannya, ada jarak dan petujuk pelaksanaan teknisnya). namun sekarang makin banyak orangtua yang tidak rela anaknya dibentak sedikit atau pulang lebih malam, ingin melindunginya selalu dalam gelembung kemanjaan sehingga protes berhamburan ke jurusan yang berujung pada pelarangan ospek kepada mahasiswa baru. mungkin akhirnya berimbas kepada keasingan jurusan. ketika jaman saya, angkatan tahun 95 mengenal sampai angkatan delapan tahun di bawahnya atau 2003. namun kini saya, angkatan empat tahun di bawah saya saja sudah tidak kenal.bagi saya mereka hanyalah muka-muka muda yang namanya mungkin tidak akan pernah mampir di ingatan.

dulu belum ada lapangan parkir karena tidak banyak yang bawa mobil , sehingga bis kuning selalu penuh dan mobil tebengan pun diminati banyak orang. banyak yang jadian dari hasil kenalan di bis, bahkan ada yang menikah. belum ada wifi dan tidak semua orang punya laptop seperti sekarang, sehingga warnet selalu terisi dan orang yang punya laptop pasti laptopnya bervirus karena dipinjam untuk pindah data entah berapa kali.

dulu hutan masih rimbun dan kos-kosan berdiri semarak di antaranya, masih penuh karena tidak semua orang punya uang untuk pulang balik depok-jakarta setiap hari. setiap malam di kutek riuh mahasiswa yang makan, mengerjakan tugas bersama, atau main gitar sebagai hiburan ketika duit menipis. sekarang hutan UI sudah banyak berganti menjadi lapangan parkir dan gedung-gedung modern entah apa fungsinya, pun UI sudah diapit mal-mal yang terus bertumbuhan di depok.

saya mengerti bahwa ini semua tidak lepas dari perubahan, dan saya pun tidak menentang perubahan. saya mengerti bahwa semua perubahan ini membuat peringkat UI naik di mata dunia, dari 500 sekian menjadi 200 sekian, semua berkat perubahan-perubahan yang membuat UI terlihat bersolek menjadi lebih 'internasional'(yang diperlukan, karena salah satu prasyarat penentuan peringkat itu adalah 'international outlook').

namun ketika menatap jaket kuning yang pudar dan belel itu, saya tak mampu untuk tidak berharap, andai kita tak perlu menjadi 'internasional'.

2 comments:

novel. said...

nice post mbak!!!

really wish the same thing. i wish UI doesn't need an international label..

ah. sungguhpun aku rindu kamu, kita, 2003, senior, junior, kantek, selasar penuh nyamuk, kutek becek, mesran, studio bp3, pusjur.

rindu kebersamaan yang sangat berarti dan sama sekali ga sebanding dengan keberadaan laptop, wifi, mobil, teknologi, dan uang.

dengan modal s tee dan nongkrong di kantek sampe jam 9 malem (ditemani nyamuk dan setan danau UI), itu udah lebih dari cukup untuk merasa sayang sama kalian semuaaaa..

*hugs*

Metamorphosophia said...

4 tahun, yang telah "mendewasakan" kita....

mengarahkan kita untuk "merasakan & memahami", bukan cuma "mendegar, melihat"

membawa kita pada "kebersamaan & persaudaraan"

semoga kita bisa senantiasa "bermimpi setinggi-tingginya dan berusaha meraihnya", tanpa harus lupa bahwa kita seharusnya terus "membumi"

Thanks to Allah for giving all of these to us, for knowing all of you...for having all of you...

follow me