Tuesday, June 16, 2015

Toilet training tips for twins (part 1)


Toilet trained kids are parents' biggest successes. Tapi prosesnya sungguh merupakan mimpi buruk orang tua.

Saya mulai serius menerapkan training untuk anak-anak pada tahun lalu, ketika mereka berumur 2 tahun 9 bulan. Sebelumnya kadang saya terapkan, kadang tidak. Hasil dari training 'nggak serius' ini hanyalah perasaan deg-degan saya terbirit-birit menggendong mereka ke toilet setelah hampir ngompol entah di mana-mana. Si kembar hanya bisa bilang kalau sudah pipis, bukan kalau mau pipis. Bikin stress dan bikin cucian numpuk, yang ujung-ujungnya mereka kembali saya pakaikan pampers.

Tahun lalu ketika kami pindah ke Inggris, guru nursery si kembar bilang kalau pada umur empat tahun si kembar harus sudah toilet trained, kalau tidak mereka tidak akan diterima di reception (semacam pra-SD). Akibat kepepet inilah, maka saya pun mulai membuat resolusi: di umur 3 tahun mereka sudah harus toilet-trained.

Setelah mempelajari berbagai macam resources tentang cara toilet training, saya berkesimpulan bahwa hanya ada satu cara efektif, yakni langsung lepas pampers sama sekali. Yang kedua, saya tidak menggunakan potty, tapi langsung mengajar mereka ke toilet dengan menggunakan toilet seat. Walaupun toilet di rumah kami hanya ada di lantai dua dan harus naik tangga dulu, tapi saya pikir ini membuat saya tidak harus membersihkan terlalu banyak barang. Yang ketiga, awalnya saya tidak menggunakan sistem reward seperti stiker atau kue sebagai gimmick ketika mereka (misalnya) berhasil pipis/pup di toilet. Alasannya sederhana saja, awalnya saya merasa harusnya itu bukan sesuatu yang harus diberi reward, tapi sesuatu yang normal dan dilakukan semua orang dan harus mereka pelajari.

Sebagai pengganti pampers, untuk beberapa hari pertama saya pakai training pants Mothercare yang cukup menyerap. Sayangnya si kembar tidak suka pakai training pants dan saya harus melewati sesi nangis-nangis drama setiap kali pakai training pants. Saya pun mengganti strategi dan membeli celana dalam biasa tapi dengan motif yang disukai anak, seperti motif Frozen atau princess Sofia. Celana ini saya jadikan iming-iming pengganti reward di atas, seperti: 'kalau pipis di celana sayang kan kita harus ganti celana princess Sofia-nya, makanya pipisnya di toilet yaa'. Strategi ini kadang berhasil untuk membujuk Ditra yang tidak suka kotor dan suka benda-benda yang cantik-cantik. Tapi buat Nandra yang cuek tingkat keberhasilannya tetap rata-rata, alias suka-suka dia.

Selain celana dalam cantik, yang pertama saya beli adalah dingklik alias kursi kecil untuk dipakai kembar naik ke toilet. Ternyata ini adalah alat yang sangat penting dan menunjang kemandirian, karena membuat mereka bisa meraih berbagai permukaan di kamar mandi selain toilet. Bisa ambil sikat gigi sendiri, masuk ke bath tub sendiri, naik ke toilet sendiri dan seterusnya. Karena toiletnya terjangkau, mereka jadi lebih mudah dan tidak malas pergi ke toilet.

Bulan pertama, si kembar pipis dimana-mana. Everywhere. Termasuk di sekolah, di taman, di luar rumah, di dalam rumah, di berbagai permukaan, sofa, karpet, dan kayu. Betapapun seringnya kami meneror dengan omongan 'mau pipis ngga?' tiap 5 menit, setiap kali bapak ibunya lengah mereka pipis di celana. Ditra sebagai yang tidak suka kotor akan menangis keras-keras tiap kali dia ngompol dengan penuh drama. Sebaliknya, Nandra cenderung cuek kalau sudah ngompol, dan malah bergerak dan menyebarkan pipisnya kemana-mana. Saat bisa bernafas lega hanyalah ketika mereka saya pakaikan pampers di malam hari.

Untuk tahap ini, tipsnya hanyalah: sabar dan lindungi rumah anda! saya siapkan penghilang noda karpet dan setumpuk lap dari kaos bekas di rumah sehingga siap digunakan tiap kali terjadi 'accident'. Setiap kali mereka tidak pipis di tempatnya, kami akan mengatakan 'pipis di toilet, bukan di celana' berulang-ulang sebagai upaya cuci otak. Seluruh kasur kami alasi mattress protector dari bahan plastik anti air,  supaya kalau tidur siang mereka ngompol tidak kena kasur. Yang menarik, kalau kami sedang pergi mereka justru jarang ngompol, mungkin karena rasanya lebih enak ya pipis di rumah hahaha. Pada tahap ini, si kembar juga masih pup di celana, sehingga lengkaplah penderitaan kami.

cerita berikutnya lanjut ya ke part 2 :D

1 comment:

Adelia Dhamayanti said...

Mana part 2nya nih mom hehehe saya jg punya anak kembar dan lg mau training toilet jg nih. Jd butuh informasi yg banyak hihi

follow me