Tuesday, March 10, 2009

Learn from the primitives


Sigmund Freud, bapak psikoanalis itu terkemuka itu, dalam esainya Civilization and its Discontents pernah bilang bahwa :
"..what we call our civilization is largely responsible for our misery, and we should be much happier if we gave it up and returned to primitive conditions."

Terlepas dari keekstriman pernyataan ini, menurut saya ada kebenarannya.

Mari menghadapi kenyataan. Primitif sering diartikan oleh banyak pihak sebagai suatu keadaan yang terbelakang, barbar. Retrogade and barbaric.

Tapi mungkin nggak banyak yang tahu kalo pengartian yang sifatnya negatif ini baru terjadi pada akhir abad 19 dan abad 20, ketika teori Darwin tentang evolusi makhluk hidup muncul dan lahir sebutan manusia primitif dan lain sebagainya yang pada intinya menurut si Darwin memang berkemampuan jauh dari manusia modern sekarang.

Namun sebelum itu, di abad ke 18, primitif artinya the origins, atau yang 'asli'.

Bukan terbelakang dan pastinya bukan yang barbar.

Tapi yang asli.

Di tahun ketiga saya di universitas dalam mata kuliah Arsitektur Etnik, kami diberi tugas untuk membuat sebuah makalah tentang salah satu suku di Indonesia dan mempresentasikannya, semuanya dalam bahasa Inggris. Atas dasar sebuah ketidaksengajaan, saya pun memilih suku Mentawai, sebuah suku yang tinggal di kepulauan Mentawai, 150 km dari kota Padang.

Saya tidak pernah menyangka bahwa banyak sekali yang bisa dipelajari dari suku ini. Bahkan bisa dibilang, walaupun mereka masih menganut gaya hidup tradisional (istilah Inggrisnya semi-nomadic-gatherer lifestyle) tapi kebijaksanaan dalam melihat hidup bersama alam ini jauh lebih dalam dibanding kita semua yang mengaku orang modern.

Karena ya itu, sesungguhnya mereka itulah yang asli, yang sesungguhnya. Yang mengenali alam, memberi dan menerima dengan tulus. Tercermin dari semua keseharian mereka.

Entah itu fakta bahwa atap rumah buatan orang Mentawai bisa tahan 20 tahun, nggak lapuk dan nggak rusak, walaupun hanya terbuat dari daun-daun.

Atau kenyataan bahwa orangtua di Mentawai menghabiskan waktu yang sama untuk bermain dengan anaknya setiap hari, tanpa ada pembedaan antara wanita dan laki-laki. Mereka percaya bahwa anak adalah karunia terbesar di dunia ini, lebih dari semua harta dan benda.

Dan kebijaksanaan mereka yang paling universal sifatnya adalah jangan mengusik alam kalau tidak mau menuai bencana, karena semuanya terhubung secara satu kesatuan dalam dunia ini.

Semua fakta-fakta itu saya rasa kita semua mengetahui kebenarannya. Tapi masih tak bisa menghayatinya. Seperti kata Freud, mungkin ada kalanya civilization menutupi mata hati kita semua. Atas nama modernisasi dan uang, manusia makin terjerat dan makin bingung dalam menggunakan akal sehat.

Foto di atas adalah foto seorang wanita dari Mentawai yang telah melakukan Pasi Piat, atau sejenis upacara pemahatan gigi sehingga berbentuk runcing. Ini adalah tradisi bagi masyarakat mereka yang berlaku untuk laki-laki maupun perempuan dan dianggap sebagai bentuk keindahan. Namun yang sangat disayangkan, pengaruh dari pemerintah membuat generasi sekarang tidak lagi melakukannya karena malu dan takut dianggap aneh dan terbelakang. Dan ini dilakukan atas nama modernisasi.

Sekarang, tiga tahun setelah dosen saya memberi tugas itu, saya baru menyadari satu kemungkinan. Dosen saya yang bijak itu mungkin mengadakan mata kuliah tersebut dalam bahasa Inggris, agar kami terbiasa mendiskusikan Indonesia dalam keberagamannya dengan bahasa yang dianggap sebagai bahasa global. Dan mungkin kelak dapat mengenalkannya ke ranah internasional, seperti yang saya lakukan sekarang. Dan inilah menurut saya mutiara modernisasi yang sesungguhnya.

Dengan kemajuan teknologi dan perubahan yang ada, kita memang harus menyesuaikan diri. Harus mampu menggunakan media atau tools yang dibutuhkan sesuai dengan keadaan, seperti bahasa Inggris untuk keadaan saya sekarang.

Tapi jangan pernah, dan jangan pernah,

melupakan siapa diri kita sesungguhnya.

Mari, belajar untuk bijak.

1 comment:

novel. said...

gimana kalo sambil dengerin lagu ini :

Rumah Kita (by : Indonesian Voices/God Bless)

Hanya bilik bambu...
Tempat tinggal kita
Tanpa hiasan...tanpa
lukisan
Beratap jerami
beralaskan tanah
Namun semua itu punya
kita
Memang semua ini milik
kita
sendiri...

Hanya alang-alang …
Pagar rumah kita
Tanpa anyelir tanpa
melati
Hanya bunga bakung
tumbuh dihalaman
Namun semua itu punya
kita
Memang semua ini milik
kita
Sendiri…

Reff :
Lebih baik disini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan
anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita…

Haruskah kita beranjak
ke kota
yang penuh dengan
tanya…

..tambah kangen negeri sendiri..

follow me